| "Lagi baca berita soal corona di media online :v" |
Assalamualaikum wr. wb.
Hingga saat ini, dunia dihadapkan pada wabah Covid 19 atau lebih ngetren kita sebut sebagai Corona. Tidak tanggung-tanggung virus yang awalnya berasal dari kota Wuhan, China ini, kini sudah menginfeksi sekitar 220.313 orang di 173 negara di dunia dan telah membunuh 8.983 jiwa. Namun, bukan hanya kabar buruk, pasien yang sembuh dari virus ini juga cukup banyak yaitu sekitar 85.769 jiwa.
Data di atas memang cukup mencengangkan. Dalam waktu yang cukup singkat, virus ini telah menyebar keseluruh dunia. Kita semua tentu bertanya-tanya, ditengah kemajuan sains, kenapa kemudian hal ini bisa terjadi? Apakah betapa tidak berdayanya kita manusia dihadapan kekuatan alam?
Sebenarnya tidak selalu demikian. Dari beberapa data yang saya temukan, beberapa negara sudah mengalami proses pemulihan. Sebut saja Tiongkok yang menurut data dari WHO mengalami tingkat penyembuhan hingga 70%. Tentu itu kabar baik bagi kita semua. Meskipun di Indonesia sendiri angka kematiannya cukup tinggi yaitu 8.37% dari 309 kasus yang sudah tercatat oleh pemerintah. Maklum lah kita kan negara berkembang (Eh bukannya kemarin sudah diganti yah jadi negara maju :v).
Sebenarnya ini bukan pertama kalinya dunia terkena wabah virus. Pada abad ke 14 dunia pernah mengalami kejadian yang dikenal dengan istilah Black Death. Saat itu diperkirakan 75 juta jiwa tewas di seluruh dunia. Wabah ini berasal dari virus yang bernama Yersinia Pestis. Penyakit ini menyebar dari Eropa ke Asia pada abad ke 14, abad ke 17, dan awal tahun 1900-an.
Salah satu yang membedakan kejadian wabah virus saat itu dengan yang terjadi sekarang adalah adanya sains. Ketika wabah penyakit menyerang Eropa pada abad 14, manusia tidak benar-benar mengerti tentang apa yang terjadi. Sama seperti orang buta yang disiram air panas. Dia hanya akan menderita tanpa tahu apa penyebab penderitaannya. Jalan satu-satunya mungkin dia akan berpikir bahwa ini adalah azab dari Tuhan. Sehingga untuk mengatasi nya dia hanya akan berdoa. Sedang tentu hanya dengan berdoa saja tidak akan membawa perubahan apa-apa.
Oke, begini, sebelum anda menghujat saya mari kita bicarakan baik-baik dengan akal sehat.
Sains banyak membawa perubahan pada kehidupan manusia. Okelah mungkin kepercayaan pada Tuhan juga membawa perubahan moral. Tapi untuk persoalan virus bakteri seperti ini, masalah tidak bisa diselesaikan hanya dengan percaya pada Tuhan semata. Perlu ada benar-benar tindakan empiris untuk menyelesaikannya. Dan disinilah sains mengambil peran. Berbeda dengan yang terjadi pada abad ke 14 itu, saat Covid 19 pertama kali muncul, dengan penelitian kita bisa jadi langsung mengetahui dari mana asal virus ini. Dan kita langsung tahu ini bukan berasal dari kekuatan gaib tapi memang ada makhluk mikroorganisme yang menyebabkan penyakit atau infeksi. Realistis saja, yang pertama kali mengumumkan virus ini adalah seorang dokter bukan seorang ulama atau pendeta.
Begini, saya bukannya ingin mendiskreditkan agama dalam persoalan ini, tapi saya cukup geram dengan sebagian orang yang mengkaitkan antara Covid-19 dengan masalah ketaatan pada Tuhan. Dan mengesampingkan persoalan sains nya. Masalah ini pure masalah sains dan medis, dan harus diselesaikan dengan sains dan medis pula. Saya juga bukannya ingin meniadakan Tuhan dalam masalah ini, tapi saya percaya bahwa Tuhan juga menguji dengan penyelesaian yang sesuai bidangnya. Saya selau percaya bahwa Tuhan sudah mengatur segala permasalahan di dunia ini dengan benar-benar teratur. Sehingga setiap persoalan sudah ada cara yang sesuai yang Tuhan ciptakan untuk menyelesaikan persoalan itu. Misal kita diuji dengan sakit batuk yah kita harus minum obat batuk agar sembuh, bukannya malah minum obat panas. Bukannya sembuh, sakit kita mungkin malah tambah parah.
Jadi. dalam persoalan marilah kita percayakan pada sains. Sains adalah hasil dari anugerah Tuhan yang menciptakan akal pada manusia. Sains telah banyak merubah kehidupan kita semua. Manusia modern seperti kita harus lebih rasional dalam mencerna sebuah persoalan. Ini bukan berati saya melarang untuk berdoa pada Tuhan yah. Bagi saya doa juga sangat penting. Doa memberikan kita ketenangan hati. Dan dengan ketenangan hati itu, seharusnya kita mampu untuk berpikir dengan lebih jernih. Yang saya tahu pun agama khususnya agama saya yaitu islam, tidak hanya mengajarkan tawakal, melainkan juga ikhtiar.
Intinya, jika sakit datang ke rumah sakit bukan malah ke dukun :v.
Okee sampai di sini dulu, maaf bila ada yang tidak disepakati pada argumen saya ini. Kalian bisa saja berkomentar dibawah agar kita mungkin bisa saling berdiskusi. Lagi pula ini hanya sekedar opini dari saya. Tidak ada paksaan bagi kalian untuk setuju atau tidak.
Oke salam literasi, Tabik.
Wassalamualaikum
Comments
Post a Comment
Komentarlah dengan santuy dan tidak perlu lapor melaporkan :)