Untuk memulai tulisan ini sepertinya saya tidak perlu untuk menjelaskan siapa itu Nissa Sabyan. Kalian tentu sudah tidak asing dengan sosok penyanyi wanita yang terkenal dengan lagu-lagu religinya ini. Baru-baru ini dia lagi banyak dibahas di jagat maya terkait masalah perselingkuhannya dengan Ayus. Kali ini juga saya tidak dalam rangka ingin membahas kronologi perselingkuhan mereka. Saya pikir itu adalah tugas dari media-media gosip semacam Lambe Turah. Titik fokus pembahasan kali ini adalah soal bagaimana masyarakat umum terkhusus netizen melihat permasalahan ini.
Saat saya membaca berita terkait masalah perselingkuhan ini, fokus saya tertuju pada beberapa komentar netizen di dunia maya. Saya agak tertergun melihat komentar netizen yang menyerang Nissa Sabyan. Bukan soal kata-kata mereka terhadap Nissa Sabyan yang cukup kasar meskipun itu juga cukup menggelitik. Tapi hal yang membuat saya heran dan aneh adalah saya sama sekali tidak melihat serangan yang ditujukan kepada Ayus yang juga adalah "tersangka" perselingkuhan. Saya tidak tahu apakah saya kurang cermat dalam melihat atau apa, tapi memang sepertinya serangan sebagian besar hanya ditujukan kepada Nissa Sabyan saja.
Hal ini tentu harusnya menjadi pertanyaan kita semua. Kenapa kita hanya menyerang Nissa Sabyan saja? Kenapa kita tidak mencoba menyalahkan Ayus juga? Bukankah perselingkuhan ini adalah tindakan mereka berdua? Saya di sini tidak dalam rangka membenarkan Nissa Sabyan. Hanya saja saya melihat komentar netizen seolah hanya menyalahkan Nissa Sabya saja. Nissa Sabyan yang dikata-katai sebagai perebut suami orang. Padahal bisa saja Ayus yang merayu Nissa Sabyan agar Ia mau menjadi selingkuhan. Bukan kah kita semua juga percaya bahwa laki-laki yang selalu punya kata-kata "tajam" untuk menggoda perempuan? Bukan kah Yunus yang harusnya bisa menjaga hati karena dia punya tanggung jawab komitmen terhadap istrinya?
Ironi semacam ini sebenarnya tidak hanya dialami Nissa Sabyan saja. Dalam setiap kasus perselingkuhan seringkali perempuan menjadi bulan-bulanan untuk dikata-katai. Bahkan lahir istilah pelakor dan sampai saat ini saya tidak mendapatkan ada istilah khusus untuk laki-laki yangberselingkuh. Dengan ini lah saya mengatakan bahwa ada beban moral terhadap perempuan yang cukup berlebihan.
Cara berpikir masyarakat kita sering kali menganggap bahwa perselingkuhan yang dilakukan laki-laki itu adalah hal yang wajar. Sehingga perempuan yang diajak berselingkuh sering kali dianggap lebih hina ketimbang laki-laki. Beban moral semacam ini bahkan tidak hanya ditimpa oleh perempuan yang berselingkuh. Perempuan-perempuan yang menjadi korban perselingkuhan pun sering kali juga ikut dikata-katai. Misalnya dianggap tidak bisa menjadi istri yang baik lah, atau tidak bisa memuaskan suami nya lah. Heran kan. Perempuan memang selalu menjadi korban. Saya sebagai laki-laki sangat kasian sebenarnya.
Kita tentu bertanya-tanya dari mana konsepsi semacam ini bisa lahir. Tentu jawabannya adalah budaya yang kemudian melahirkan konstruksi. Budaya kita masyarakat Indonesia memang sangat patriarkis. Menempatkan laki-laki sebagai sosok yang memiliki derajat yang lebih tinggi ketimbang perempuan. Hal ini membuat hukuman yang ditimpa kepada perempuan lebih besar ketimbang laki-laki. Suami yang berselingkuh seringkali lebih mudah untuk dimaafkan ketimbang perempuan.
Padahal sebenarnya kalau kita melihat dengan rasional harusnya tidak ada perbedaan perlakuan dan beban moral antara laki-laki dan perempuan. Karena sejatinya keduanya sama-sama memiliki nilai dismoralitas yang sama. Bahkan pemicu tindakan untuk berselingkuh laki-laki dan perempuan pada dasarnya memiliki kesamaan. Anggapan bahwa laki-laki berselingkuh hanya karena alasan sexual itu tidak sepenuhnya benar. Menurut Kenneth Paul Rosenberg dalam bukunya, Infedility: Why Men and Women Cheat, mengungkapkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara angka perselingkuhan laki-laki dan perempuan. Artinya kecenderungan perempuan atau laki-laki untuk perempuan itu selalu sama.
Pada intinya ditulisan ini saya ingin menegaskan bahwa perselingkuhan itu entah dilakukan laki-laki atau perempuan memiliki derajat moralitas yang sama-sama rendah. Hukuman sosial yang diberikan pun harusnya sama. Tidak boleh ada salah satu saja yang disalahkan. Keduanya sama-sama salah.
Oke sekian dan terima kasih. Mohon untuk dikritisi.

Comments
Post a Comment
Komentarlah dengan santuy dan tidak perlu lapor melaporkan :)